Popular Post

Popular Posts

Recent post




Selama saya belajar psikologi pendidikan di semester ini, saya merasa bahwa dosen pengampuh menyampaikan materi dengan sangat baik. Dosen pengampuh menguasai materi yang disampaikan dan menjelaskannya kepadsa mahasiswa dengan cara yang menarik sehingga mahasisswa yang menerima pembelajaran dapat menguasai materi yang disampaikan. Tiap dosen yang berbeda memiliki cara yang berbeda pula dalam menyampaikan materinya. Saya merasa bahwa apa yang disampaikan selama ini saat proses pembelajaran membuat saya semakin menambah wawasan saya. Dosen yang mengajar juga sangat baik dalam menggunakan teknologi yang ada saat ini sehingga membuat mahasisiwa berkembang sesuai dengan perkembangan yang ada saat ini. Selain itu, dosen juga dapat membimbing mahasiswa untuk langsung ternun ke lapangan untuk mengobservasi sehingga mahasiswa lebih mampu secara praktek juga, bukan hanya teori saja yang dipelajari saat kuliah berlangsung.
Saya kira sampai disini saja testimoni saya perihal kelas psikologi pendidikan yang sudah berlangsung selama beberapa pertemuan ini. Saya harap kedepannya saya juga akan semakin mampu untuk menguasai apa yang disampaikan oleh dosen.
Terikmakasih.

TESTIMONI



 REVIEW 4

MOTIVASI
Motivasi merupakan proses yang memberi semangat, arah dan kegigihan perilaku. Artinya perilaku tersebut adalah perilaku yang memiliki energi, terarah dan bertahan lama.
Perspektif motivasi
Perspektif psikologis menjelaskan mtivasi dalam cara yag berbeda dan dengan pandangan yang berbeda juga.
Perspektif behavioral menekankan pada imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Intensif adalah peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid.
Perspektif humanistik menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka. Hal ini terkait dengan padangan Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipenuhi dahulu untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Aktualisasi diri, kebutuhan manusia merupakan kebutuhan tertinggi dalam hierarki maslow, aktualisasi diri merupakan motivasi untuk mengembangkan potensi diri secara penuh sebagai manusia.
Perspektif kognitif, menurut perspektif ini pemikiran akan memandu motivasin mereka. Perspektif ini mengusulkan konsep motivasi kompetensi yang merupakan ide bahwa orang termotivasi untuk menghadapi lingkungan merekasecara efektif, meguasai dunia mereka, dan memproses informasi secara efisien.
Perspektif sosial didalamnya terdapat kebutuhan akan afiliasi atau keterhubungan yaitu motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman.

MOTIVASI UNTUK MERAIH SESUATU
Motivasi ekstrinsik : melakukan sesuatu untuk mndapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan).
Motivasi intrinsik : motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri).
Determinasi dan pilihan personal, merupakan salah satu pandangan tentang motivasi intrinsik menekankan pada determinasi diri,dalampandangan ini murid percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena krmauan mereka sendiri bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal.
Pengalaman optimal merupakan perasaan senagng dan bahagia yang besar, pengalaman optimal kebanyakan terjadi ketika orang erasa mampu bahwa ia menguasai dan berkonsentrasi penuh dalam melakukan aktivitas.

MOTIVASI

REVIEW 3


INTELEGENSI
Intelegensi merupakan keahlain memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi pada, dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari.
Tes Intelegensi  Individual
1.       Tes Binet
Pada 1904 Binet menyusun metode guna mengidentifikasikan anak-anak yang tidak mampu belajar di sekolah
Binet mengembangkan konsep mental age (MA) atau usia mental, yakni level  perkembangan mental individu yang berkaitan dengan pengembangan lain. Pada tahun 1912 William Stern menciptakan konsep intellegence quotient (IQ), yaitu usia mental seseorang dibagi dengan usia kronologis (chronological age-CA), dikalikan dengan 100.
IQ=MA / CA X 100.

CATATAN : mental age merupakan level perkembangan mental individual yang berhubungan                                           dengan perkembangan lainnya. Sedangkan intelegence quotient merupakan usia mental (MA) seseorang dibagi dengan usia kronologis (CA), dikalikan dengan 100.

Tes Stanford-Binet masih menjadi salah satu tes yang paling banyak digunakan untuk menilai intelegensi murid (Aiken, 2003; Walsh & Betz, 2001).
2.       Skala Wechsler
Skala Wechsler dikembangkan oleh David Wechsler. Tes inni mencakup Wechsler preschool and primary scale of intelegence-Revised (WPSI-L) untuk menguji anak usia 4 sampai 6 ½  tahun; Wechsler intelegence scale for childern-revised (WISC-R) untuk anak remaja dari usia 6 hingga 16 tahun; dan Wechsler adult intelegence scale-revised (WAISC-R)
Wechsler juga menunjukkan IQ verbal dan IQ kinerja . IQ verbal terdiri dari enam skala IQ kinerja terdiri dari lima subskala kinerja.

TEORI INDIVIDUAL VERSUS TES KELOMPOK
Tes kelompok lebih nyaman dan ekonomis ketimbang tes individual, namun juga ada kekurangan nya, saat tes dilakukan pada satu kelompok besar, peneliti tak dapat menyusun laporan individual, menentukan tingkat kecemasan murid, dan sebagainya. Dalam situasi tes kelompok besar, murid mungkin tidak memahami intruksi atu mungkin diganggu oleh murid lainnya.
TEORI MULTIPLE INTELEGENCE
Teoti intelegensi triarkis memiliki pandangan oleh stanberg bahwa intelegensi  muncul dalam tiga bentuk utama: analitis, kreatif, dan praktis.

INTELIGENSI

RESUME 2

PEMBELAJARAN
Dalam psikologi pendidikan pembelajaran merupakan hal penting. Pembelajaran dapat juga diartikan sebagai pengaruh permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berfikir dan diperoleh melalui pengalaman.

PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN
Dalam segi behavioral. Behaviorisme merupakan pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diamati, bukan dengan proses mental. Proses mental didefenisikan oleh psikolog sebagai pikiran, perasaan dan motif yang kita alami namun tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Pandangan behavioral didalam pembelajaran terdapat dua jenis yaitu pengkondisian klasik (classical condition) dan pengonsisian operan (operan condition). Kedua pandangan ini menekankan pembelajaran asosiasi yang terdiri dari keterkaitan atar kejadian yang ada.

dalam segi kognitif, selama beberapa dekade terakhir psikologi cenderung menggunakan dari segi kognitif dan berlanjut hingga saat ini.
terdapat empat pendekatan kognitif untama untuk pembelajaran :
1. 
    1. Kognitif sosial, menekankan tentang perilaku, lingkungan, dan orang saling berinteraksi memengaruhi proses pembelajaran
22.   Pemrosesan informasi, menitikberatkan bagaimana seseorang memproses informasi melalui perhatian, ingatam, pemikiran, dan proses kognitif lainnya
33.  Konstruktivis kognitif, menekankan konstruksi kognitrif terhadap pengetahuan dan pemahaman
44.   Konstruktivis sosial, fokus pada kolaborasi dengan orang lain untuk mendapatkan pengetahuan dan pemahaman.

 PENDEKATAN BEHAVIORAL UNTUK PEMBELAJARAN
Pengkondisian Klasik (classical conditioning)

Pengkondisian klasik atau classical conditioning merupakan  tipe pembelajaran dimana suatu objek yang belum terkondisi lalu dikondisikan untuk mengetahui respon yang akan dihasilkan setelah pengondisian. Pavlov melakukan penelitian pengkondisian klasik menggunakan seekor anjing. Ia meneliti respon anjing terhadap stimulus yang diberikan sebelum dan sesudah pengondisian.
ada beberapa terminologi terhadap percobaan pavlov :
1.      Unconditional Stimulus (UCS) adalah stimulus alami atau be;lum dikondisikan
2
--   Unconditional Response (UCR) adalah respon alami yang dihasilkan melalui stimulus alami tanpa adanya pengondisian

3.      Conditional Stimulus (CS) adalah stimulus yang tidak dikondisikan atu stimulus yang diberikan saat masa percobaan berlangsung yang akan menghasilkan respon yang diinginkan peneliti

4.      Conditional Response (CR) adalah respon yang telah dikondisikan pada suatu percobaan atau hasil dari stimulus yang telah dikondisikan

pada percobaan yang dilakukan Pavlov, anjing akan mengeluarkan saliva (UCR) saat diberikan makanan (UCS) ini dilakukan sebelum pengondisian. lalu ketika anjing diberi bunyi bel  (Netral) anjing tidak memberikan respon. Pengkondisian pavlov terjadi ketika bunyi bel maka ia akan memberikan makanan sesudahnya. Setelah beberapa kali dilakukan, maka anjing akan mengeluarkan saliva (CR) ketika diberikan bunyi bel (CS).


GENERALISASI, DISKRIMINASI STIMULUS DAN PELENYAPAN

Generalisasi stimulus adalah proses dimana, setelah suatu stimulus dikondisikan untuk menghasilkan suatu respon tertentu, stimulus yang mirip dengan stimulus asli menghasilkan respon yang sama.

Diskriminasi stimulus adalah proses yang terjadi jika dua stimulus cukup berbeda satu sama lain diama satu stimulus membangkitkan suatu respon terkondisi, namun stimulus yang lain tidak, kemampuan untuk membedakan dua stimulus atau lebih

Pelenyapan adalah fenomena dasar dari belajar yang terjadi ketika suatu respon yang sebelumnya telah terkondisi menurun dalam frekuensi dan bahkan menghilang.



Pengkondisian Operan
            Pengkondisian operan adalah pembelajaran dimana suatu respon yang disadari diperkuat atau diperlemah, tergantung pada konsekuensi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan.
Hukum Efek menurut Thorndike adalah konsekuensi dari respon menentukan apakah respon akan dilakukan dimasa depan. Hukum  efek Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti hasil negative akan diperlemah.
Pengkondisian Operan Skinner. Dimana konsekuensi perilaku akan menyebabkan perubahan dalam probabilitas periaku itu akan terjadi, merupakan inti dari behaviorisme Skinner. Konsekuensi berupa imbalan atau hukuman.sedangkan penguatan (imabalan) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi.


Pembelajaran Menggunakan Pendekatan Behavioral

RESUME 

Pendidikan Multikultural merupakan pendidikan yang menghargai perbedaan dan mewadahi beragam persektif dari berbagai kelompok kultural. 
Tujuannya adalah pemerataan kesempatan bagi semua murid yang mempersempit gap dalam prestasi akademik antara murid kelompok utama dengan kelompok minoritas. 
Keadilan sosial merupakan salah satu nilai dasar dalam bidang ilmu. komponen utamanya ialah reduksi prasangka dan pedagogi ekuitas.

reduksi prasangka merupakan aktivitas yang dapat diimplementasikan guru di kelas untuk mengeleminasi pandangnan negatif dan stereotip terhadap orang lain. 
Pedagogi ekuitas merupakan modifikasi proses pengajaran dengan memasukkan materi dan strategi yang tepat baik untuk anak lelaki atau perempuan dan untuk semua kelompok etnis. 

MeEMBERDAYAKAN MURID
Pemberdayaan merupakan memberi orang kemampuan intelektual dan keterampilan memecahkan masalah agar berhasil dan menciptakan dunia yang lebih adil.
Sonia Nieto (1992) seorang keturunan Puerto Rico yang besar di New York City memberikan rekomendasi sebagai berikut :
1. Kurikulum sekolah harus jelas, antirasis, dan antidiskriminasi.
2. Pendidikan multikultural harus menjadi bagian dari setiap pendidikan murid.
3. Murid harus dilatih untuk lebih sadar budaya. 

Salah satu strategi yang paling kuat untuk meningkatkan hubungan diantara anak dari kelompok etnis yang berbeda-beda adalah kelas Jigsaw, dimana kelas yang murid dari berbagai latar belakan kultural berbeda diminta bekerja sama untuk mengerjakan beberapa bagian yang berbeda darfi suatu tugas untuk meraih tujuan yang sama. 
Lalu murid yang belajar berfikir secara mendalam dan kritis tentang relasi antaretnis kemungkinan akan berkurang prasangkanya dan tidak lagi menstereotipkan orang lain. 

MENGURANGI BIAS
Kurikulum ini lebih mendorong guru untuk menghadapi isu bias yang mengganggu ketimbang menutup-nutupi bias itu.
Berikut strategi yang direkomendasikan untuk guru :
1. Ciptakan lingkungan kelas antibias dengan memasang gambar anak dari berbagai etnis dan kultural.
2. Pilih materi drama, seni, dan aktivitas kelas yang memperkaya pemahaman etnis dan kultural. 
3. Gunakan boneka persona untuk anak kecil.
4. Bantu murid menolak stereotip dan diskriminasi.
5. Ikutlah dalam aktivitas peningkatan kesadaran untuk memahami pandanngan kultural anda sendiri. 
6. Bangun dialog guru / orangtua yang membuka diskusi tentang masing-masing pandangan. 

SEKOLAH DAN KOMUNITAS SEBAGAI SATU TIM 

Ada tiga aspek dari Comer Project yakni :
1. Pemerintah dan tim manajement yang mengembangkan rencana sekolah yang komperhensif, penilaian strategi, dan program pengembangan staf.
2. Tim pendukung sekolah dan kesehatan mental.
3. Program orangtua.
program Comer menekankan pendekatan no-fault (yakni fokus pada pemecahan masalah, bukan saling menyalahkan), tidak ada keputusan kecuali melalui konsensus dan tidak ada "paralysis" (tidak ada suara tidak setuju yang bisa menghadang keputusan mayoritas. 






MOTIVASI MULTIKULTURAL

Anggota Kelompok 5 ,Psikologi Pendidikan:
1.     MirandaSianturi
2.     NashihaSfifa A
4.     NadaPertiwi
5.     Miranda
6.     IanitaPA
7.     AbdulHafiz
1. Masa Bayi ( 0-2 Tahun)
2. Masa Prasekolah atau Kanak-kanak Awal (2-6 Tahun)
Masa prasekolah atau kana-kanak Awal ada 4 masa yang biasanya dihadapi yakni:
·         Masa Negativis (Trotrzalter), contohnya: Jangan makan tapi dia makan maksudnya berlawanan yang dilakukan.
·         Masa Bermain (Unoccupied Behavior, Onlooker, Solitary depedent Play, Parallel Praly, Associative Play, and Cooperative Play)
·         Masa Explorasi, contohnya: Banyak bertanya.
·         Masa Meniru.
ü  Tahap perkembangan Kognitif menurut Piaget: Praoperasional, dengan cirri-ciri belajar menggunakan bahasa, dan cara berpikir bersifat Egosintris.
ü  Tingkat Perkembangan Moral menurut Kohlberg:
Prakonvensional;
o   Tahap 1 : Orientasi Hukuman
o   Tahap 2 : Orientasi Ganjaran
3. Masa Kanak-kanak Akhir
Sejak 6 tahun sampai matang secara seksual (setara dengan usia tingkat SD) dan pengaruh teman sebaya mulai dominan.
ü  Tahap Kognitif Operasional konkrit yakni mampu berpikir logis tentang objek dan kejadian serta menguasai konversi jumlah dan berat, dan mampu mengklasifikasi objek.
ü  Menurut Erikson yakni Tahap Industy VS Inferiority (Percaya diri atau Berani VS kurang percaya diri).
ü  Tahap Perkembangan Moral Konvensional
o   Tahap 3 : Orientasi “good boy or girl”
o   Tahap 4 : Orientasi Otoriras, biasanya saat menduduki Sekolah Menengah Pertama
4. Masa Remaja (Adolescense)
            Usia 11 atau 12 samapi 18 atau 24 Tahun, dengan ditandainya oleh Menarche &Polution (Hormon Seksual) atau (mimpi basah) pada masa perkembangan seksual. Perkembangan fisik mengarah ke bentuk badan, perkembangan Heteroseksual (Tertarik pada lawan jenis), dan perkembangan Emosional (emosi tidak stabil, berubah-ubah dan cenderung meledak-meledak).
ü  Perkambangan Kognitif yakni Operasional Formal dengan cirri-ciri:
-          Mampu berpikir logis mengenai sesuatu yang abstrak
-          Menaruh perhatian tentang masa depan
-          Konsep ideologis
-          Membuat hipotesis dari apa yang mereka lihat
ü  Pola pikir censerung Egosentris
ü  Perkembangan Identitas Diri yakni Identity VS Role Conforion, contohnya cenderung ingin mencoba, meniru “idolannya”, dam timbul pertanyaan “siapa saya” seperti ingin diakui dirinya di tempat lingkungannya.
ü  Perkembangan moral, biasanya terdapat tingkat konvernsional namun sebagian sudah Post konvensional.
o   Tahap 5 : Orientasi Kontrak Sosial
o   Tahap 6 : Orientasi Asas Etis, contohnya menaati rambu lalu lintas dalam arti sudah mulai menaati dan melakukan etika yang benar.

PERKEMBANGAN ANAK DAN REMAJA

POWER POINT PSIKOLOGI PENDIDIKAN : PERENCANAAN, INSTRUKSI DAN TEKNOLOGI
Tugas Mata Kuliah Psikologi Pendidikan
Perencanaan, instruksi dan teknologi

Oleh Kelompok 5


 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2017







- Copyright © Life - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -